Timnas Indonesia

Ketua BTN Buka Suara soal Penyebab Timnas Indonesia Menderita di 2 Laga Kualifikasi Piala Dunia 2026



NOBARTV NEWS – Ketua BTN Sumardji akhirnya buka suara terkait hasil buruk di dua laga awal 2026 kemarin. Sumardji menjelaskan beberapa alasan yang membuat skuad Garuda mencatatkan hasil buruk itu.

Seperti yang diketahui, pada bulan November kemarin, skuad Garuda asuhan Shin Tae-yong memainkan dua laga awal dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia ronde kedua grup F. Dari enam pertandingan yang akan dimainkan pada grup F itu, Marc Anthony Klok dkk bermain sebanyak dua kali. Kedua laga itu adalah melawan Timnas Irak dan Timnas Filipina.

Menariknya, kedua laga ini selalu dimainkan di kandang lawan. Artinya, skuad Garuda menjadi satu-satunya tim di grup F yang selalu memainkan laga tandang di dua laga awal Kualifikasi Piala Dunia 2026 tersebut. Pertama, laga melawan Irak digelar di Basra International Stadium – sedangkan pertandingan kontra Filipina di Rizal Memorial Stadium.

Namun sayangnya adalah – dari dua laga tersebut, skuad Garuda mencatatkan hasil buruk. Pertama mereka dibantai Irak dengan skor telak 5-1. Padahal, di laga ini, Shin Tae-yong sudah memasang target menang atas tim asal timur tengah itu. Satu-satunya gol skuad Garuda kala itu dicetak oleh pemain keturunan Shayne Pattynama.

Sementara itu, di laga melawan Filipina – skuad Garuda lagi-lagi gagal menang. Untuk laga melawan Filipina, target menang adalah harga wajib. Sayangnya, bermain di rumput sintetis seperti di Rizal Memorial Stadium, skuad Timnas Indonesia justru ditahan imbang 1-1. Kala itu, Saddil Ramdani menjadi pencetak gol untuk Timnas Indonesia.

Ketua BTN Buka Suara soal Penyebab Timnas Indonesia Menderita di 2 Laga Kualifikasi Piala Dunia 2026
Timnas Indonesia vs Filipina di Kualifikasi Piala Dunia 2026 beberapa waktu lalu

Satu poin dari dua laga tersebut pun membuat skuad Garuda kini menempati posisi buncit klasemen sementara grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026. Perjalanan ke dua negara dan hanya mendapatkan satu poin membuat mereka harus puas sementara waktu berada di posisi tersebut. Kini, para pemain sudah kembali ke klubnya masing-masing bahkan sudah mengikuti kompetisi domestik.

Berminggu-minggu pasca dua hasil memalukan itu, baru-baru ini Ketua BTN (Badan Tim Nasional) Sumardji angkat suara terkait hasil buruk tersebut. Sumardji menjawab alasan di balik pembantaian dan hasil imbang dari Irak serta Filipina itu.

“Jadi begini, saya jujur sekali ada di dalamnya dan saya juga berangkat bersama-sama. Artinya saya tahu betul kondisi tim. Menurut saya yang menjadi atensi di kami adalah waktu berkumpulnya karena kami berangkat setelah bermain di liga,” kata Sumardji.

“Bahkan ada yang baru selesai main langsung berangkat dan kami bertemu di Irak. Di Irak kami tidak tahu soal cuaca dan kebetulan beberapa kali di sana hujan. Jadi ketika datang, cuaca tidak mendukung. Saat kami mau menjalani latihan terjadi hujan, jadi latihan tidak maksimal,” tambah pria yang juga anggota Polri dengan pangkat Komisaris Besar itu.

Perjalanan panjang dari Indonesia ke Irak menjadi salah satu atensi Sumardji. Selain itu, faktor jetlag dan perbedaan waktu juga menjadi alasannya.

“Kami juga menjalani perjalanan panjang dari Jakarta sampai Basra, itu bukan sebentar, tetapi cukup lama. Bukan cuma itu, terus ada jetlag juga. Bagaimana tidak? Perbedaan waktunya 5 jam dengan Indonesia,” ucapnya.

Di Filipina, kata Sumardji, dirinya merasa amat kecewa dengan kondisi lapangan yang disiapkan. Hal itu – katanya juga menjadi penyebab Timnas Indonesia tidak tampil maksimal ketika melawan The Azkals.

“Saya saja yang tidak bermain merasa capek sekali. Saya tentu tidak sekadar membela karena saya ada di dalam dan saya bisa merasakan sendiri kondisi itu. Yang kedua kaitannya dengan laga melawan Filipina. Kalau dari mata saya melihat dan hati saya, saat melihat kondisi lapangan jadi mengelus dada,” kata Sumardji lagi.

“Kondisi lapangan kalau menurut saya, mohon maaf, tidak layak. Pertama lapangan sintetis. Oke, tidak apa-apa sintetis. Yang kedua, lapangannya licin. Yang ketiga, sudah licin, gampang membuat pemain jatuh. Kalau jatuh, pemain terluka. Saya itu sampai kasihan.”

“Baru kali itu saya melihat pemain bola 11 orang dimainkan hanya satu yang tidak terluka, yaitu kiper saja. Sepuluh orang lainnya semua terluka. Menurut saya ya tidak bisa seperti itu. Kecuali kalau yang terluka cuma satu pemain,” ucapnya memungkasi.

Lalu Getar

Seorang penikmat kopi dan fans layar kaca Real Madrid