Gedung Federal Reserve Disorot: Trump Soroti Biaya Konstruksi dan Tekan Powell
Sengketa Trump vs Powell: Renovasi US$2,5 Miliar Picu Ketegangan Politik-Ekonomi
NOBARTV NEWS Proyek Gedung Federal Reserve – Dalam langkah yang jarang terjadi bagi seorang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melakukan kunjungan langsung ke markas Federal Reserve pada Rabu (24/7) untuk meninjau proyek Renovasi Gedung senilai miliaran dolar sekaligus menyuarakan tekanan keras terhadap kebijakan Suku Bunga tinggi. Kunjungan ini tidak hanya menjadi sorotan media nasional, tetapi juga menjadi simbol bagaimana politik dan ekonomi saling bertaut dalam pusaran kekuasaan fiskal dan moneter.
Kehadiran Trump di gedung yang menjadi pusat kebijakan moneter Amerika itu memicu gelombang opini tajam. Dengan mengenakan helm konstruksi berlogo Fed, Trump menyindir biaya renovasi yang ia klaim telah membengkak dari estimasi awal, dan memanfaatkannya sebagai simbol pemborosan federal di tengah tingginya inflasi dan biaya pembangunan nasional.
Renovasi yang Membengkak: Proyek Federal Reserve Dituding Tak Transparan
Proyek renovasi gedung Federal Reserve, yang awalnya disetujui dengan anggaran US$1,9 miliar pada 2023, kini tercatat menelan biaya hingga US$2,5 miliar. Trump menuding bahwa biaya sebenarnya bahkan telah mencapai US$3,1 miliar—angka yang kemudian dibantah oleh Ketua The Fed Jerome Powell sebagai “tidak akurat” karena mencampur proyek terpisah yang telah selesai lima tahun lalu.
Renovasi ini melibatkan pekerjaan besar termasuk penanganan asbestos, peningkatan sistem keamanan, pemenuhan standar bangunan tahan gempa, hingga pelestarian warisan arsitektur klasik era 1930-an. Laporan media menyebutkan bahwa peningkatan harga bahan bangunan dan logam seperti baja—yang melonjak hingga 60% sejak 2018—menjadi faktor utama pembengkakan biaya.
Selain itu, usulan dari beberapa komisaris yang ditunjuk oleh Trump untuk menambahkan elemen marmer mewah pada bagian interior turut menambah tagihan konstruksi, menimbulkan polemik mengenai efisiensi belanja publik.
Tekanan Terhadap Suku Bunga: Trump Ingin Fed Potong 300 Basis Poin
Dalam pernyataan publiknya setelah tur ke lokasi renovasi, Trump menyuarakan kritik tajam terhadap kebijakan suku bunga yang masih berada pada level tinggi. Ia menyerukan penurunan drastis sebesar 300 basis poin (3%) guna “menyelamatkan ekonomi Amerika dari stagnasi dan membebaskan rakyat dari tekanan bunga kredit rumah, kartu kredit, dan pinjaman usaha kecil.”
Trump menyatakan bahwa beban bunga dari Utang Nasional Amerika Serikat telah meningkat tajam akibat suku bunga tinggi, dan renovasi gedung Fed adalah bukti nyata dari “prioritas yang keliru.” Ia menyindir bahwa jika proyek semahal ini bisa dibiayai oleh institusi independen seperti Fed, maka rakyat juga berhak mendapatkan keringanan bunga pinjaman.
Meski demikian, Powell tetap mempertahankan pendiriannya bahwa suku bunga tinggi masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang belum sepenuhnya mereda, dan bahwa The Fed akan bertindak sesuai data, bukan Tekanan Politik.
Kontrak Publik dan Layanan Hukum dalam Sorotan
Meskipun proyek ini tidak dibiayai langsung oleh anggaran pemerintah federal, melainkan dari neraca internal The Fed, kritik bermunculan soal transparansi pemilihan kontraktor, konsultan hukum, dan pihak ketiga yang terlibat. Hingga saat ini, nama-nama firma arsitektur atau hukum belum diumumkan secara publik, mengundang tanya dari kelompok pengawas pengadaan federal.
Para analis hukum memperkirakan bahwa proyek sebesar ini melibatkan belasan kontrak layanan hukum, termasuk untuk kepatuhan terhadap Undang-Undang Pelestarian Bangunan, kode keselamatan, serta kontrak penyedia material dan pekerja outsourcing.
Pengacara publik federal dari kelompok watchdog menyatakan pentingnya audit terbuka dan uji publik terhadap legalitas dan keabsahan biaya proyek yang semakin membengkak ini.
Dampak Politik dan Ekonomi: Ancaman terhadap Independensi Fed?
Sejumlah ekonom dan mantan pejabat Fed memperingatkan bahwa tekanan Trump yang terang-terangan kepada Powell bisa membahayakan Independensi The Fed. Jika tekanan politik berhasil memaksa penurunan suku bunga, pasar bisa menganggap bahwa Kebijakan Moneter AS tidak lagi berbasis data, tetapi berbasis kekuasaan.
Sebaliknya, bagi sebagian pendukung Trump, langkah ini dianggap sebagai upaya membela rakyat dari elitisme lembaga keuangan dan pemborosan institusional. Dengan Pilpres 2024 telah usai dan Trump kembali menjabat, narasi pemborosan Fed bisa menjadi senjata politik untuk mendorong reformasi sistem moneter AS.
Tabel Poin Penting Artikel
| Poin Penting | Keterangan |
|---|---|
| Anggaran Awal Proyek | US$1,9 miliar (2023), naik jadi US$2,5 miliar di 2025 |
| Klaim Trump Soal Biaya | Menyebut US$3,1 miliar (dibantah Powell sebagai tidak akurat) |
| Faktor Pembengkakan Biaya | Asbestos, pelestarian gedung, inflasi bahan bangunan, usulan interior mewah |
| Sikap Trump terhadap Powell | Kritik keras, tapi belum memecat; ingin penurunan suku bunga 300 bps |
| Dampak Politik | Potensi erosi independensi Fed, tekanan politik memicu debat nasional |
| Kontrak & Legal Services | Belum diumumkan terbuka; kemungkinan besar melibatkan belasan kontrak |
| Perkiraan Selesai Proyek | Target selesai pada tahun 2027 |
Ketegangan antara Gedung Putih dan Federal Reserve kian memanas. Di satu sisi, Donald Trump menjadikan proyek renovasi The Fed sebagai lambang pemborosan yang tak perlu, dan menggunakannya sebagai alat untuk menekan suku bunga demi kepentingan ekonomi nasional. Di sisi lain, The Fed—yang secara konstitusional independen—berusaha mempertahankan otoritasnya untuk mengambil keputusan berbasis data ekonomi, bukan tekanan politik.
Proyek renovasi ini bukan hanya soal bangunan fisik, tapi simbol pertarungan antara dua kekuatan besar: politik dan keuangan. Dan di tengahnya, berdiri rakyat Amerika yang menanti apakah suku bunga akan turun atau ekonomi tetap bertahan dalam kebijakan konservatif.