Media Thailand Beberkan 3 Fakta Sepakbola Indonesia Sulit Berkembang: Salah Satunya Korupsi!
dalam laga di Kualifikasi Piala Asia 2023

NOBARTV NEWS – Media asal Thailand, Main Stand menyebut beberapa faktor yang membuat Timnas Indonesia sulit untuk maju. Lewat artikel yang ditulisnya, terdapat tiga faktor yang membuat sepak bola Indonesia tidak bisa berkembang.

Sebagaimana diketahui, Timnas Indonesia saat ini berada di peringkat 155 dunia. Peringkat tersebut sangat berbanding jauh dengan lainnya di wilayah Asia Tenggara seperti dan Thailand.

Timnas yang saat ini diasuh oleh pelatih asal Korea Selatan, Park Hang-seo masuk dalam 100 besar FIFA dengan berada di posisi ke-97. Meski tidak masuk ke-100 besar dunia, Thailand cukup berbangga karena berjuluk Gajah Perang itu menempati posisi 111 dunia.

Jika menyandingkan Indonesia dengan dua tersebut, sudah tentu skuad Garuda kalah jauh. Dua tim tersebut selalu menjadi momok menakutkan Indonesia – baik itu ketika bertemu di ajang Piala AFF, , atau turnamen mini hingga lingkup (2021) seperti kemarin.

Berita Terkait:  Jelang Keberangkatan ke Jepang, Yanto Basna Beri Pesan untuk Arhan

Berikut tiga hal yang disebutkan sebagai penyebab Timnas Indonesia tidak bisa berkembang oleh Media Thailand, Main Stand.

1. Liga Domestik yang Tidak Konsisten

Pada tahun 2011 lalu, mengalami dualisme kompetisi. Beberapa klub keluar dari Indonesia Super League lalu mendirikan kompetisi baru yang dinamakan Indonesian .

Tidak hanya kompetisi yang terbelah, beberapa klub baru muncul demi bisa bersaing di dua kompetisi. Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya menjadi dua klub yang terpecah dan masing-masing ikut dalam dua kompetisi tersebut.

2. Politik Masuk ke Ranah Sepak Bola

Politik bisa menghancurkan siapa saja – dan hal itulah yang terjadi pada ekosistem sepak bola Indonesia. Akibat politik masuk ke dalam ranah sepak bola, perbedaan pandangan pun bermunculan.

Akibat perbedaan politik itulah yang membuat terpecah seperti yang disebutkan pada poin di atas.

3. Korupsi

Kata ‘korupsi’ sangat akrab dengan kata ‘pejabat.’ Namun di dalam sepak bola, kata ini juga begitu lekat.

Melansir dari situs Bolasport pada 2018 lalu, menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), PSSI diduga melakukan korupsi hingga 720 miliar pertahun. Jumlah tersebut terhitung dari hulu PSSI hingga hilirnya (anggota PSSI tingkat provinsi hingga kabupaten).

Berita Terkait:  Taklukkan Malaysia, Singapura Salip Timnas Indonesia di Rangking FIFA

“Total kerugian 720 miliar. Untuk wilayah Semarang diperkirakan ada kerugian negara tahun 2004 hingga 2009 sebesar Rp 2,5 miliar,” ujar peneliti muda ICW, Apung Widadi pada 2011 silam.

“Liga domestik (Indonesia) tidak memiliki umur panjang yang hampir sama, karena secara konsisten mengalami inkonsistensi, dualisme, dan pertengkaran politik,” tulis Main Stand, kemarin.

Berdasarkan tiga poin tersebut, wajar saja jika Main Stand menyebut hal itu menjadi penyebab utama Timnas Indonesia sulit untuk berkembang. Namun di era baru ini – di bawah kepemimpinan Mochamad Iriawan sebagai Ketua Umum PSSI, ditambah dengan skuad Garuda yang telah ditangani pelatih kelas wahid, rasa-rasanya untuk bersaing atau bahkan melawati Thailand dan bukan sekadar harapan biasa untuk digapai.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, Timnas Indonesia diprediksi akan mampu menyaingi atau bahkan mengungguli peringkat dua tim raksasa Asia Tenggara itu.