BRI Liga 1

Ultras Rayo Vallecano Sindir Aparat dalam Tragedi Kanjuruhan: Mereka Bukan Meninggal Tapi Dibunuh!



NOBARTV NEWS – Suporter klub Rayo Vallecano memuat pesan khusus ketika mereka menjamu Elche dalam lanjutan La Liga musim 2022/2023. Ultras Rayo Vallecano itu memuat pesan khusus terkait Tragedi Kanjuruhan. Hal serupa pernah dilakukan suporter Bayer Munchen ketika menjamu Viktoria Plzen dalam ajang Eropa beberapa waktu lalu.

Pesan yang disampaikan oleh dua suporter itu memiliki pesan yang mirip. Fans Die Roten (Bayer Munchen) membuat banner bertuliskan “Lebih dari 100 orang dibunuh polisi, mengingat para korban Kanjuruhan.” Tulisan tersebut menggunakan bahasa Inggris.

Berbeda dengan Ultras Rayo Vallecano, para fans menggunakan bahasa Spanyol dalam kritik yang mereka tuliskan.

“No son muertes, son asesinatos,” bunyi pesan khusus di stadion milik Rayo, Campo de Futbol de Vallecas. Dalam bahasa Indonesia, tulisan tersebut memiliki arti “Mereka bukan meninggal, tapi dibunuh.”

Sepertinya, narasi meninggalnya ratusan jiwa dalam Tragedi Kanjuruhan sudah menjadi konsumsi publik internasional – bahkan dari beberapa narasi tersebut, mereka menganggap bahwa pihak kepolisian yang harus bertanggungjawab buntut tragedi mematikan tersebut.

Namun hingga saat ini, pemerintah Indonesia sendiri belum memutuskan siapa pihak yang harus bertanggungjawab dalam tragedi tersebut. Presiden RI Joko Widodo disebut telah membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kasus tersebut. Menko Polhukam Mahfud MD ditunjuk sebagai ketua investigasi. Dua di antara anggota mereka adalah Akmal Marhali (Koordinator Save Our Soccer) dan eks pemain Kurniawan Dwi Yulianto.

Joko Widodo dalam sesi konferensi persnya beberapa hari lalu telah memerintahkan agar hasil investigasi itu sudah selesai tidak lebih dari satu bulan terhitung sejak kejadian.

Kronologi Terjadinya Tragedi Kanjuruhan Versi Suporter

Sampai detik ini, terdapat beberapa versi mengapa tragedi maut tersebut bisa terjadi. Namun mayoritas orang pada umumnya lebih memercayai tragedi tersebut terjadi karena ulah aparat kepolisian.

Usai laga antara Arema FC Vs Persebaya Surabaya selesai, ribuan suporter Arema turun ke lapangan guna memprotes hasil minor tersebut. Untuk diketahui, dalam laga tersebut Arema FC tumbang dari sang tamu 2-3.

Beberapa versi menyebut jika para suporter melakukan perusakan fasilitas stadion – namun tak sedikit pula yang mengatakan bahwa tujuan mereka adalah ‘hanya' untuk memprotes manajemen dan para pemain yang gagal memberikan kemenangan.

Alhasil, tiada angin tiada hujan kerusuhan antara suporter dengan aparat kepolisian tak terhindarkan. Aparat keamanan kemudian menembakkan gas air mata kepada para suporter yang kemudian berlarian menyelamatkan diri.

Mereka (suporter) menumpuk di satu pintu keluar (menyelematkan diri) sehingga banyak dari mereka saling injak. Kehabisan oksigen (karena gas air mata) dan saling injak membuat sedikitnya 125 orang meninggal dunia.

Versi tersebut (di atas) merupakan versi dari beberapa suporter. Akan tetapi dari tim investigasi sendiri belum selesai melakukan penyelidikannya sampai saat ini.


Lalu Getar

Seorang penikmat kopi dan fans layar kaca Real Madrid

5 Comments

  1. Kalo di persentasekan 80% polisi+panpel sih wkwkwk 20% baru kesalahan suporter… Apalah arti sebuah fasilitas rusak dari pada sebuah nyawa wkwkwkwk fasilitas rusak masih bisa diperbaiki
    Padahal suporter awalnya cuman turun biasa gk ada tuh yang tawuran atau baku hantam.. polisinya aja yang lebai bikin ricuh